+ -

Bukan Teman Biasa | 02


       Mobil yang kami kendarai terus melaju menuju bagian paling selatan kota ternate. Lalu lintas kota tidak begitu padat seperti biasanya dan itu membuat perjalanan kami terasa cepat menuju pantai Castella. Di dalam mobil, suasana menjadi remai ketika Fanni di sindir oleh Ririn karena belum memiliki pacar. Fanni menjadi merah merona, mungkin karena malu dengan lelaki yang tadi bermain mata dengannya.

     “Ah. Bisa saja kamu Rin. Aku masih belum mau pacaran, bukan karena nggak mau, tapi belum ada sosok yang pas dan menarik hatiku!”  Fanni berkomentar setelah Ririn menghinanya dengan sebutan Jomblo Sejati!

     “Terus yang di belakangmu gimana, Fan?” rupanya Ririn sudah membaca situasi dan sedang mencari sikon yang pas untuk memberi solusi. Dan ya, aku pun tertawa geli melihat ekspresi Fanni yang terlihat malu – malu ‘kucing’.

     “Iya, Fan, sudah waktunya kamu mencari pacar dan segera menikah. Nggak mau kan di panggil perawan tua!” dengan antusias aku melontarkan nasihat berbumbu ejekan, yang langsung di respon dengan cubitan genit Fanni, yang terasa seperti sengatan semut merah!

      “Emang kamu sudah punya, ya? Berani – beraninya menghinaku, padahal kamu sendiri belum laku!” setelah mencubitku, Fanni melontarkan kalimat tanya dengan bumbu sindiran yang langsung membuatku malu. Tapi, aku tidak menunjukkan ekspresi malu kepada mereka dan hanya terbahak saja merespon kalimat Fanni!

     Sementara teman Fanni yang mungkin sebentar lagi akan menjadi pacarnya, terlihat bahagia mendengar obrolan kami. Dia seakan mendapat lampu hijau untuk melinatasi ruang hati Fanni. Bagaimana tidak, sedang Ririn sudah membocorkan ‘rahasia’ Fanni! Dia memang berteman dengan lelaik tersebut, namun setahu aku, Fanni tidak terlalu dekat dengan setiap teman lelakinya. Teman lelakinya yang paling dekat dengannya hanyalah aku, dan dia menganggapku seperti saudaranya.

     Jalinan persahabatan kami sudah berlangsung lama, sejak kami bertetangga di rumah dinas kepolisian. Ayahnya dan Ayahku adalah anggota polisi yang berteman akrab, seperti bersaudara, sehingga membuat aku dan Fanni seperti kakak – beradik. Persahabatan kami terus berlanjut, walau rumah kami sudah berjauhan. Bersekolah dan kuliah di SMA dan Universitas yang sama, membuat kami semakin sulit terpisahkan, bahkan sampai di wisuda pun hubungan kami sebagai sahabat tetap berlanjut.
***
       Laju kendaraan yang ‘ku kemudikan semakin ‘ku percepat, demi mencapai pentai Castella sebelum jam sepuluh, agar kami bisa mendapat tempat yang pas untuk bersanatai. Pantai Castella adalah sebuah pantai yang berhadapan dengan pulau Tidore dan Maitara. Pantainya cukup indah dengan terumbu karang yang cukup baik di pandang mata. Pantai ini pernah menjadi saksi kebesaran bangsa Portugis yang menjadikan pantai tersebut sebagai pusat armada lautnya. Mereka pun mendirikan benteng terbesar se Asia di dekat lokasi pantai tersebut. Nama pantai ini sendiri di ambil dari nama benteng tersebut yaitu; Castella!

       Setelah sekian waktu, kendaraan kami mulai memasuki daerah yang berdekatan dengan pantai Castella. Pulau Maitara sudah semakin jelas terlihat, menandakan sebentar lagi kami akan sampai di pantai Castella. Jalanan di ternate adalah jalanan yang berdekatan dengan laut, sehingga pulau pulau di sampingnya begitu jelas terlihat jika kita berjalan mengelilingi pulau ternate.

Angin yang menabarakan air, menjadikan benturan yang mencipta putih di atas biru. Sesekali suara ombak yang menghantam karang begitu jelas menyapa telinga, sehingga suasana alam begitu damai menyejukkan raga.
…bersambung ke-chapter | 03 

Chapter sebelumnya:
Thanks for share!
5 Sofyan Salim: Bukan Teman Biasa | 02        Mobil yang kami kendarai terus melaju menuju bagian paling selatan kota ternate. Lalu lintas kota tidak begitu padat seperti biasan...

No comments:

Post a Comment

< >